Main Menu

Profesi Perencana Keuangan

Sejak pertamakali perencanaan keuangan syariah mengudara di studio MQ
102,7 FM Bandung, permasalahan pendengar langsung tertuju pada utang,
bahkan ketika topik utang diangkat sebagai bahan perbincangan, respons
pendengar pun cukup banyak. Tak sedikit kasus-kasus utang bermasalah
yang memerlukan bantuan pendapat dari narasumber sebagai perencana
keuangan syariah. Bahkan ketika masalah mencicil yang cerdas diangkat
sebagai tema selama 1 bulan penuh, masalah-masalah cicilan yang
disampaikan lebih banyak terkait utang-piutang dibandingkan dengan
mencicil investasi. Belum lagi permasalahan akad syariah yang banyak
dilangar, dan akhirnya menimbulkan riba yang diharamkan.

Ketidakpahaman ketika berakad utang-piutang pada akhirnya dapat
menyeret masyarakat pada masalah pembayaran dan pelanggaran syariat,
karena menarik manfaat dari utang piutang adalah riba (haram). Bahkan
utang ribawi tersebut tidak hanya dilakukan oleh lembaga keuangan, namun
juga secara lazim dilakukan masyarakat, melalui kelompok arisan,
perkumpulan pengajian, koperasi, dll.

Lantas, tanpa bantuan perencanan keuangan (financial planner) dapatkah Anda melakukan sendiri perencanaan keuangan (financial planning)?
Apalagi terkait menyelesaikan jebakan utang dan investasi sesuai
syariah. Jika Anda berminat pada perencanaan keuangan syariah, banyak
sekali peranti lunak (software) perencanaan keuangan pribadi,
majalah atau buku, pelatihan, dan bentuk edukasi lainnya, yang dapat
membantu Anda untuk melakukan perencanaan keuangan sendiri. Namun jika
Anda memutuskan untuk mencari pertolongan dari seorang perencana
keuangan profesional juga tidak masalah, apalagi:

–    Anda membutuhkan keahlian yang tidak dimiliki dari beberapa area
keuangan, baik mencicil utang maupun mencicil investasi. Seorang
perencana keuangan dapat membantu, misalnya mengevaluasi utang Anda,
tingkat risiko dalam portofolio investasi Anda atau menyesuaikan rencana
pensiun berkaitan dengan keadaan keluarga yang berubah, tunggakan
pembayaran utang, dll.

–    Anda ingin mendapatkan opini profesional mengenai rencana keuangan yang telah disusun untuk diri sendiri.

–    Anda merasa tidak memiliki waktu untuk melakukan perencanaan keuangan sendiri.

–    Anda memiliki kebutuhan yang sifatnya tiba-tiba atau peristiwa
hidup yang tidak terduga seperti gagal usaha, kelahiran anggota keluarga
baru, pembagian warisan, atau kondisi penyakit kritis yang berisiko
pada keuangan Anda, dll.

–    Anda merasa bahwa seorang penasihat profesional mungkin dapat menolong meningkatkan cara dalam mengatur keuangan.

–    Anda membutuhkan peningkatan situasi keuangan, termasuk mencicil yang cerdas, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, dll.

Lalu siapakah yang Anda temui? Seorang perencana keuangan adalah
seseorang yang akan menggunakan proses perencanaan keuangan untuk
menolong Anda mendapatkan cara bagaimana mencapai tujuan-tujuan keuangan
yang ditetapkan. Perencana keuangan dapat melihat situasi keuangan Anda
dan membuat rekomendasi perencanaan keuangan yang cocok. Perencana
keuangan dapat melihat seluruh kebutuhan Anda termasuk membuat anggaran,
menabung, perencanaan pajak, investasi, asuransi, ataupun pensiun.

Perencana keuangan dapat bekerja untuk Anda atas satu persoalan
keuangan tapi tetap dalam konteks situasi keuangan secara menyeluruh.
Pendekatan menyeluruh atas tujuan-tujuan keuangan inilah yang membedakan
perencana keuangan—mirip dengan profesi dokter umum, dengan penasihat
keuangan (financial advisor) yang lain—mirip profesi dokter
spesialis, di mana mereka mungkin dilatih untuk fokus hanya pada area
tertentu dari keuangan Anda. Namun sejatinya seorang personal financial advisor,
menjalani pembelajarannya mulai dari pemahaman umum—mirip dengan dokter
umum sebelum menjadi spesialis. Mereka yang sudah banyak dikenal
sebagai profesi spesialis sebut saja;

Akuntan

Umumnya menyediakan jasa nasihat atas masalah pajak dan membantu Anda
menyiapkan dan mengajukan laporan pajak Anda ke Direktorat Jenderal
Pajak. Atau juga terkait pembukuan keuangan pribadi yang terkait harta
waris, yang umumnya terkait profesi lain, yaitu notaris, atau penyertaan
data keuangan untuk kebutuhan asuransi.

Agen Asuransi dan Agen Reksa Dana

Mereka yang telah memiliki izin menjual seperti Certificate in Unit Linked atau agen reksa dana yang telah memiliki izin menjual sebagai Wakil Penjual Reksa Dana dapat menjual produk unit linked
atau reksa dana kepada klien mereka. Bahkan saat ini, Asosiasi Asuransi
mensyaratkan kewajiban sertifikasi pada profesi ini. Sementara
perusahaan asuransi ada yang membekalinya dengan kemampuan sertifikasi
perencana keuangan untuk spesialis asuransi.

Penasihat Investasi

Seseorang yang ingin memberikan nasihat invetasi harus memiliki izin
dari BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) sebagai Wakil Manager
Investasi.

Pialang Saham

Pialang saham adalah orang telah memperoleh izin dari BAPEPAM sebagai
wakil perantara pedagang efek di pasar modal untuk kepentingan
kliennya.

Perencana Keuangan

Banyak perencana keuangan yang juga terdaftar sebagai penasihat
investasi atau memiliki izin menjual asuransi atau saham yang
mengizinkan mereka untuk membeli atau menjual produk. Perencana keuangan
yang lain mungkin meminta Anda untuk menggunakan lebih banyak penasihat
keuangan yang mempunyai spesialis tertentu untuk membantu melaksanakan
rekomendasi mereka. Dengan pendidikan yang tepat dan pengalaman,
masing-masing dari beberapa penasihat seperti yang telah dijelaskan di
atas, dapat membawa Anda melewati proses perencanaan keuangan. Perencana
keuangan yang mempunyai kode etik akan mengarahkan Anda ke satu dari
profesional tersebut untuk jasa yang tidak disediakan oleh mereka.

Sejarah Perencana Keuangan Kontemporer

Awalnya istilah profesi perencana keuangan (financial planner)
dikenal di Amerika. Sejarah mencatat, profesi perencana keuangan
pertama kali dicetuskan pada 12 Desember 1969 oleh Loren Dunton dan
James R. Johnston. Sebagai penggagas, mereka mengundang sejumlah
penggiat jasa keuangan untuk menyatukan pendapat tentang pentingnya
merencanakan keuangan. Seiring dengan bertambahnya instrumen keuangan
dan masalah-masalah masyarakat terkait keuangan yang semakin kompleks,
mulai dari mengelola pendapatan, berinvestasi, merencanakan asuransi,
merencanakan pensiun, pendidikan anak, dll. Dari gagasan inilah lahir
sebuah organisasi perencana keuangan. Empat puluh tahun kemudian (2009),
tak kurang dari 120 ribu CFP profesional yang tersebar di seluruh
dunia.

Hadirnya perencana keuangan sebagai sebuah profesi baru, tidak begitu
saja. Di Amerika sendiri dipicu oleh perkembangan instrumen keuangan
yang semakin diminati masyarakat secara luas. Mulanya, sekira tahun
1924, ketika reksa dana (mutual fund) sebagai produk pasar
modal diperkenalkan, respons masyarakat saat itu belum menyentuh pada
lapisan masyarakat awam. Nampaknya instrumen investasi ini hanya
dikenal/dimiliki oleh segelintir orang yang berduit saja yang dikenal
saat itu sebagai investor. Bahkan tahun 1940, ketika muncul istilah
penasihat investasi, sasaran utama yang dilakukan juga masih pada para
investor yang biasa berinvestasi di bursa atau perusahaan-perusahaan
besar lainnya. Baru 30 tahun kemudian gagasan perencanaan keuangan ini
mulai disebarkan pada masyarakat dan menjadi profesi baru.

Sebelum berdiri organisasi perencana keuangan, istilah perencanaan keuangan (financial planning) saat itu banyak digunakan oleh penjual asuransi (sales insurance). Selain merencanakan pertanggungan risiko, saat itu juga sudah dikenal perencanaan pensiun (retirement plan) yang banyak dikelola oleh perusahaan asuransi. Maka tak heran bila sales insurance sangat mendominasi pada awal pendirian organisasi perencana keuangan tersebut.

Ketika baru dimunculkan, profesi perencanaan keuangan ini kurang
sekali didukung peraturan termasuk standar etika. Kebutuhan untuk
beberapa bentuk pengaturan organisasi serta permintaan bahwa seorang
perencana keuangan yang kompeten dan dipercaya saja yang layak
memberikan advis, akhirnya mendorong beberapa organisasi jasa keuangan
independen untuk memperkenalkan sertifikasi dan standar etis untuk
memenuhi tantangan sesuai dengan kebutuhan di setiap negara.

Mereka yang memenuhi persyaratan proses sertifikasi dan standar etika
akan diberikan sebutan perencana keuangan profesional. Salah satu
sertifikasi tertua, paling dikenal di kalangan perencana keuangan adalah
sertifikasi Certified Financial Planner (CFP). Sertifikasi ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada awal tahun 1971, setelah IAFP (International Association for Financial Planning) mendirikan College for Financial Planning, yang memberikan sertifikasi profesional bagi lulusannya. Lulusan kelas pertama yang diselenggarakan 1973 ada 42 orang.

Khusus untuk lokal Amerika dibentuklah CFP Board, yang berbasis di Washington, DC. Sementara untuk di luar Amerika Financial Planning Standards Board
(FPSB) yang berbasis di Denver, Colorado, mengeluarkan kebijakan
sertifikasi serupa, hingga perencanaan keuangan dapat menyebar ke
berbagai penjuru dunia termasuk ke Asia, seperti Singapura, Malaysia,
Indonesia, Cina, Hongkong, dll, yang meliputi 20 negara dengan badan
penyelenggara standardisasi Financial Planning CFP.

Perkembangan berikutnya munculah Chartered Financial Consultant (ChFC) untuk “Advanced Financial Planning” sebutan yang diberikan oleh The American College
(Bryn Mawr, PA, The American College). ChFC profesional yang memenuhi
syarat untuk membantu individu, profesional, dan pemilik usaha kecil
dengan perencanaan keuangan yang menyeluruh, termasuk asuransi, pajak
penghasilan, perencanaan pensiun, investasi, dan perencanaan perumahan.
Berdasarkan catatan, saat ini tak kurang dari 135 program pendidikan
sertifikasi di berbagai negara di dunia. Enam dari sembilan program sama
dengan CFP, maka salah satu yang lulus ujian sertifikasi CFP dapat
terus untuk mendapatkan ChFC dengan berhasil menyelesaikan tiga program
tambahan dan ujian.

Lalu bagaimana dengan Islamic Financial Planner? Di saat
lembaga keuangan syariah berkembang di Indonesia, sebut saja perbankan
syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, namun hingga 2011 lalu
perencana keuangan syariah belum mendapat legitimasi formal. Faktanya
belum ada data pasti mengenai jumlah perencana keuangan syariah yang qualified
di Indonesia, secara statistik juga belum ada data yang jelas mengenai
berapa perencana keuangan syariah. Umumnya praktisi perencana keuangan
syariah adalah mereka yang sudah pernah mengikuti pendidikan dan
sertifikasi perencanaan keuangan “konvensional”. Padahal, banyak sekali
perbedaan yang mendasar pada perencanaan keuangan syariah jika
dibandingkan dengan perencanaan keuangan pada umumnya, karena harus
merujuk pada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber hukum utama umat
Islam.

Untuk menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, untuk pertama kalinya
penulis mulai tahun 2012 kembangkan Institute of Shari’ah Financial
Planner (ISFP) Indonesia. Dengan segenap keterbatasan yang ada,
harapannya dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi Islam.
Kitab-kitab ulama terkemuka sendiri yang menulis tentang fiqih muamalah
belum ada yang secara spesifik membahas Islamic Financial Planning (perencanaan keuangan syariah), kajian yang mengemuka lebih membahas Islamic Finance
(manajemen keuangan islami) yang lebih mengatur tata kelola keuangan
untuk mikro dan makro ekonomi, tidak lebih dalam lagi membahas ekonomi
rumah tangga.

Jasa dan Biaya

Di negara-negara seperti Amerika, Australia, Singapura, Malaysia,
dll, sudah banyak lembaga pendidikan menawarkan ilmu perencanaan
keuangan dari tingkat diploma hingga master (S2). Lembaga ini bekerja
sama dengan asosiasi perencana keuangan resmi yang ada di negara
tersebut, sehingga lulusan lembaga pendidikan ini memiliki kompetensi
perencanaan keuangan serta diakui oleh asosiasi profesinya.

Dalam praktiknya dikenal 2 tipe;

  1. Perencana Keuangan Independen, yaitu perencana keuangan yang tidak
    terikat atau bekerja pada suatu institusi atau perusahaan tertentu.
  2. Perencana Keuangan Tied, yaitu perencana keuangan yang bekerja atau
    terikat pada suatu institusi atau perusahaan, sebut saja asuransi,
    perbankan, pasar modal (sekuritas), lembaga zakat infaq sedekah dan
    wakaf, BMT (Baitul Maal wa Tamwil) dan Koperasi Jasa Keuangan Syariah
    (KJKS), dll.

Kedua praktik tersebut pada akhirnya memengaruhi jasa yang
ditawarkan. Kedua tipe tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan
masing-masing. Terlepas dari keunggulan dan kelemahan yang dimiliki,
pada akhirnya akan menentukan biaya jasa (ijarah/ujrah) yang akan
dibebankan pada klien (nasabah). Umumnya, perencana keuangan tied, yang
bergabung di salah satu institusi/perusahaan, akan mendapat komisi atas
setiap dana yang berhasil masuk ke perusahaan, sesuai pilihan nasabah
dan rekomendasi perencana keuangan tersebut. Dalam kasus ini, nasabah
tidak dikenakan biaya lagi untuk mendapatkan advis dan pilihan produk
yang sesuai. Karena perencana keuangan tersebut sudah mendapat komisi
penjualan dari perusahaan tempat dirinya bekerja.

Pada awalnya biaya jasa perencana keuangan independen sekalipun
dibayar melalui komisi hasil pertumbuhan portofolio klien mereka. Hal
ini didasarkan keyakinan bahwa konpensasi yang diterima merefleksikan
nilai ekonomi produk yang mereka jual (yang direkomendasikan perencana
keuangan independen tersebut). Seiring dengan produk keuangan yang
semakin berkembang dan kesadaran masyarakat menggunakan jasa penasihat
keuangan sebelum memutuskan pilihan produk keuangan, serta mulai
diterimanya profesi ini sebagai bagian dari penjualan produk keuangan
tersebut, maka terjadi perubahan konpensasi. Komisi berdasarkan kinerja
produk keuangan yang semula sebagai pedoman pembayaran jasa, berubah
menjadi fee yang bersifat tetap (flat fee), berupa pembayaran di muka atas rekomendasi yang diberikan.

Hingga pada akhirnya, saat ini, jasa dan biaya perencana keuangan ini meliputi 3 kelompok;

  1. Charge a fee, tapi tidak menawarkan produk apa pun. Umumnya
    perencana keuangan ini mengklaim sebagai perencana keuangan independen.
    Sebagai advisor, perencana keuangan ini memberikan analisa dan menyusun
    rekomendasi serta alternatif beberapa produk yang bisa dipilih jika
    pada akhirnya harus menggunakan produk keuangan, sesuai tujuan keuangan
    yang disusun klien (nasabah).
  2. Give free advice, tapi charge a commission.
    Umumnya diberikan oleh perusahaan, karena melakukan transaksi produk
    yang dikeluarkan perusahaan tersebut (seperti asuransi, reksa dana,
    saham, obligasi, tabungan/deposito, zakat/infaq/Sedekah, dll), komisi
    yang diberikan perusahaan untuk jasa perencanaan keuangan sudah termasuk
    di dalamnya.
  3. Charge both a fee and commission. Sekalipun sudah memberikan rekomendasi dan mendapatkan fee
    atas rekomendasi tersebut dari klien nasabah, namun tak sedikit
    perusahaan yang masih memberikan insentif pada perencana keuangan
    tersebut, karena telah menghasilkan penjualan.

Apabila Anda memutuskan mengambil jasa perencana keuangan, maka
perhatikan proses perencanaan keuangan terdiri dari 6 langkah ini, apa
dan bagaimana hak serta kewajiban dalam hubungan profesional tersebut:

  1. Menentukan dan menegaskan hubungan klien dengan perencana keuangan (financial planner).

Seorang perencana keuangan harus menjelaskan secara transparan atau
mendokumentasikan jasa yang disediakan untuk Anda dan menegaskan
tanggung jawabnya, bagaimana dia akan dibayar dan oleh siapa. Anda dan
perencana keuangan harus menyetujui berapa lama hubungan profesional
akan berlangsung dan bagaimana keputusan-keputusan keuangan akan dibuat.

  1. Menentukan tujuan (goal) perencanaan keuangan (financial planning).

Anda dan perencana keuangan harus saling menegaskan tujuan (goal)
keuangan yang akan dicapai dalam kontrak tersebut, menetapkan jangka
waktu untuk suatu hasil dan mendiskusikannya apabila relevan, juga apa
yang dirasakan mengenai risiko yang akan dihadapi. Perencana keuangan
harus mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan sebelum memberikan
nasihat yang Anda perlukan.

  1. Menganalisa dan mengevaluasi status Anda.

Perencana keuangan harus menganalisa informasi untuk menilai situasi
Anda dan menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai
tujuan-tujuan yang ditetapkan. Tergantung dari jasa apa yang Anda minta,
hal ini bisa termasuk menganalisa aset, kewajiban dan arus kas,
perlindungan asuransi saat ini, strategi investasi, zakat, wakaf,
manajemen kas, dll.

  1. Membuat dan menyajikan rekomendasi perencanaan keuangan dan/atau alternatifnya.

Perencana keuangan harus menawarkan rekomendasi perencanaan keuangan
yang menyebutkan tujuan-tujuan Anda, berdasarkan informasi yang
disediakan. Perencana keuangan harus menjelaskan rekomendasi-rekomendasi
keuangan tersebut kepada Anda sehingga dapat membuat
keputusan-keputusan berdasarkan informasi yang ada. Perencana keuangan
juga harus mendengarkan kekhawatiran-kekhawatiran Anda dan melakukan
revisi rekomendasi-rekomendasi tersebut secara tepat.

  1. Melaksanakan rekomendasi perencana keuangan.

Anda dan perencana keuangan harus menyetujui atas bagaimana
rekomendasi-rekomendasi keuangan tersebut akan dilakukan. Perencana
keuangan akan melakukan coaching atas rekomendasi-rekomendasi
tersebut, yang melakukan koordinasi atas proses secara keseluruhan dan
apabila diperlukan melibatkan profesional lainnya apabila perencana
keuangan tersebut tidak berkompeten menanganinya sendiri, seperti
notaris/pengacara atau pialang saham, dll.

  1. Mengawasi rekomendasi perencanaan keuangan.

Anda dan perencana keuangan harus menyetujui atas siapa yang akan
mengawasi perkembangan pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Apabila perencana keuangan yang bertanggung jawab atas proses tersebut,
maka harus ada laporan secara periodik untuk meninjau situasi tersebut
dan melakukan penyesuaian atas rekomendasi-rekomendasi tersebut, apabila
diperlukan, sesuai dengan perubahan gaya hidup/usaha Anda.






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss