Main Menu

Perencana Keuangan Syariah Sejati

Apakah Al-Qur’an dan Al-Hadits memberikan tuntunan untuk mengatur keuangannya. Tentu saja ada. Bahkan berdasarkan hukum syariat, agar upaya kita dinilai ibadah (nyunah atau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya), harus mengikuti nashnash yang telah ada sebagai pedoman dasar. Dalam surat Al-Isra ayat 26 ditegaskan, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (tabdzir).” Diperkuat dengan surat Al-Furqon ayat 67, ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan (Israf), dan tidak (pula) kikir (Taqtir), dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Penegasan ini mensiratkan bahwa seorang muslim harus pandai mengelola uang (harta). Dengan demikian secara tegas dapat dikatakan Islam yang pertama kali sebagai penggerak pentingnya perencanaan keuangan. Mengapa? Al-Qur’an telah ada dan diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu, sudah menegaskan pentingnya merencanakan keuangan agar bisa membelanjakan di tengah-tengah antara keduanya (tidak berlebihan/boros dan kikir).

Bahkan jika dipelajari dari kisah hidupnya, Baginda Rasul—shalawat dan salam untuknya, merupakan sosok perencana keuangan syariah sejati. Kisah berikut ini dapat menjelaskan sosok tersebut, riwayat Abu Daud No. 1398, dan at-Tirmidzi No. 616, dalam Kumpulan 9 Kitab Hadits penerbit Lidwa Pusaka Jakarta-Indonesia. Hadist serupa diriwayatkan oleh an-Nasai, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan.” Perawi lainnya dari jalur Humaid bin Ma’adah dari Ubaidullah bin Syumaith bin ‘Ajlan juga menceritakan hal yang sama dari Al Akhdhar bin ‘Ajlan dari Abu Bakr Al Hanafi dari Anas bin Malik.

Suatu ketika seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang kepada Rasulullah, kemudian beliau berharap meminta pertolongan agar dirinya terbebas dari kesulitan keuangan.

Mendapati sahabatnya dalam masalah keuangan, beliau pun bertanya: “Apakah di rumahmu terdapat sesuatu?”

Ia berkata; “Ya, alas pelana yang Kami pakai sebagiannya dan Kami hamparkan sebagiannya, serta gelas besar yang kami gunakan untuk minum air.”

Rasulullah pun berkata: “Bawalah keduanya kepadaku.”

Lalu sahabat Anshar ini pulang dan membawa yang dimilikinya kepada beliau, serta menyerahkannya. Lantas Rasulullah mengambilnya dengan tangan beliau yang mulia, menampakkannya pada sahabat yang lainnya seraya berkata; “Siapakah yang mau membeli kedua barang ini?”

Seorang laki-laki yang hadir saat itu berkata; “Saya membelinya dengan 1 dirham.” Tak puas dengan tawaran harga tersebut, beliau pun berkata: “Siapa yang menambah lebih dari 1 dirham?”

Beliau menawarkannya dua atau tiga kali. Dan akhirnya dari sahabat yang hadir saat itu ada yang berkata; “Saya membelinya dengan 2 dirham.”

Nampaknya, harga penawaran tersebut menjadi tawaran terbaik untuk sebuah alas pelana dan gelas besar tersebut. Kemudian beliau memberikannya kepada orang yang menawar 2 Dirham tersebut, dan mengambil uangnya sebagai tanda sepakat untuk melakukan jual beli. Dalam Ilmu fiqih jual beli tersebut dikenal dengan ba’i al musawamah (jual beli dengan tawar-menawar tanpa menyebutkan harga pokok dari barang tersebut), atau dikenal juga dengan lelang.

Tak lama setelah uang tersebut diterima, Rasulullah pun memberikan uang tersebut kepada Sahabat Anshar yang memiliki kedua barang itu dan berkata: “Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah kapak kemudian bawalah kepadaku.”

Dengan bekal 1 dirham, Sahabat Anshar ini pergi ke pasar dan membeli kapak. Kemudian orang tersebut membawanya kepada beliau. Lalu Rasulullah mengikatkan kayu pada kapak tersebut dengan tangannya, seraya berkata kepadanya: “Pergilah, cari kayu dan jual. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari.”

Kemudian orang tersebut pergi pada keluarganya dan menafkahi mereka dengan 1 dirham yang tersisa, dan dengan bekal kapaknya sebagai modal kerja ia mencari kayu serta menjualnya. Waktu berlalu, dan Sahabat Anshar ini bekerja dengan semangat dengan solusi keuangan yang disampaikan Rasulullah. Hingga batas waktu yang diperintahkan, ia pun datang menghadap dengan membawa uang 10 Dirham. Dari uang tersebut itulah ia nafkahi keluarganya dengan membeli pakaian dan dengan sebagiannya makanan.

Kemudian Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda:

“هَذَا خَيْرٌ لَكَ ,مِنْ أَنْ تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِع”ٍ

Ini lebih baik bagimu, daripada sikap meminta-minta datang sebagai noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sesungguhnya sikap meminta-minta tidak layak kecuali untuk tiga orang, yaitu untuk orang fakir dan miskin, atau orang yang memiliki utang sangat berat, atau orang yang menanggung diyat/denda (sementara ia tidak mampu membayarnya).”

Keterangan tersebut diriwayatkan secara marfu (tersambung hingga Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam) yang diceritakan oleh Anas bin Malik, diceritakan kembali Abu Bakr Al Hanafi, oleh Al Akhdhar bin ‘Ajlan, oleh Isa bin Yunus, yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dari Abdullah bin Maslamah.

Kisah tersebut menggambarkan sejatinya Rasulullah Sang Perencana Keuangan Syariah memberikan nasihat dalam menyusun prioritas keuangan, fiddunya hasanat wafil akhirati hasanat (kebaikan di dunia dan akhirat), menyelesaikan masalah keuangan tanpa menggantungkan pada masalah yang baru (berutang/ meminjam), namun mengoptimalkan terlebih dahulu kemampuan individu tersebut. Sekaligus memotivasi sahabatnya untuk menempatkan modal kerja pada investasi yang aktif produktif, serta mandiri. Tanpa melupakan hak nafkah keluarganya, dengan memanfaatkan aset yang dimiliki (menjual aset yang ada), agar dialokasikan pada modal kerja aktif (kapak).

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Bayan bin Bisyr dari Qais bin Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan Al Bukhari No. 1377. Abu ‘Isa berkata, Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih gharib yang digharibkan dari hadits Bayan bin Qais.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh jika seseorang di antara kalian berangkat pagi hari untuk mencari kayu bakar dan dipikul di atas punggungnya, yang dengannya dia bisa bersedekah dan mencukupi kebutuhannya dari manusia, hal itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, sama saja apakah dia memberi kepadanya atau tidak, karena sesungguhnya tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah dan mulailah memberi dari orang yang menjadi tanggunganmu.

Bekerja menjadi suatu dorongan utama seseorang mendapatkan penghasilan. Lantas, jika kehidupan pekerjaan sudah menjadi bagian dari rutinitas, dan penghasilan sudah diraih secara kontinyu, bagaimana merencanakan keuangannya agar sesuai syariah dan diberkahi? Ketika ditanya tentang keutamaan membagi-bagi harta yang didapat dan salah satunya untuk sedekah, terkait hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberikan solusi agar mengelola keuangan yang sudah didapat seperti Fulan yang merawat kebun dan hasilnya.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb, teks milik Abu Bakr, keduanya berkata: “Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdulaziz bin Abu Salamah dari Wahb bin Kaisan dari Ubaidullah bin Umair Al Laitsi dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan demikian,” diriwayatkan oleh Imam Muslim No. 5299 dalam Kumpulan 9 Kitab Hadits Penerbit Lidwa Pusaka.

Diceritakan ada seorang laki-laki yang berada pada suatu belahan bumi, tiba-tiba ia mendengar suara di awan;

“Siramlah kebun fulan.“ “Siramlah kebun fulan.“ “Siramlah kebun fulan.“

Maka awan tersebut mengumpul lalu mengguyurkan airnya pada sebidang tanah cadas berbatu, maka laki-laki tersebut pergi menuju tempat itu dan ketika ia tiba, di beberapa ujung genangan air, ternyata ada sebuah genangan air yang menyerap air dari semua genangan lainnya, maka laki-laki itu menelusuri air tersebut hingga ia menemukan seorang laki-laki berada di kebunnya, yang sedang berusaha mengalirkan air ke kebun miliknya dengan sekop.

Memperhatikan kejadian tersebut, laki-laki yang memperhatikan aliran air yang dicurahkan dari awan tadi, lantas bertanya; “Wahai hamba Allah, Siapa namamu?”

Ia pun menjawab; “Fulan” dengan nama seperti yang didengar oleh laki-laki pertama tadi dari atas awan. Kontan saja laki-laki yang memperhatikan aliran air tadi keheranan, karena jawaban nama tersebut sama dengan nama yang disebutkan awan tadi.

Merasa mendapat pertanyaan dari orang yang baru dikenalnya, maka dia pun balik bertanya kepadanya; “Wahai hamba Allah, Kenapa kamu bertanya namaku?”

Laki-laki itu kemudian menjawabnya; “Sesungguhnya aku mendengar suara dari awan yang sekarang menjadi air ini, ia berkata; “Siramlah kebun fulan,” dan ternyata itu adalah namamu.”

Tak sampai selesai menceritakan keheranannya, laki-laki yang mendengar percakapan awan tadi melanjutkan pertanyaanya, “Apa yang kamu perbuat dengan kebun ini (sehingga terjadi hal itu—awan-awan begitu memperhatikan kebutuhan air kebunnya)?”

Mendapat pertanyaan yang sederhana tersebut, Fulan menjawab; “Ada pun jika kamu mengatakan hal itu, maka sesungguhnya aku membagi hasil kebun ini sepertiga untuk aku sedekahkan, sepertiga lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga akhir aku simpan sebagai bibit kebun ini.”

Membagi pendapatan 3 sepertiga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah rumus sederhana dalam perencanaan keuangan syariah. Pembagian tersebut diperuntukkan bukan saja untuk mengelola anggaran pengeluaran (budgeting), namun juga bernilai keberkahan. Tiga pos besar yang dianggarkan tadi sudah meliputi kebutuhan nafkah (konsumsi keluarga), modal kerja, juga bersedekah.

Adakah manfaat selain keberkahan dengan terpeliharanya penghasilan yang didapat? Menjawab manfaat perencanaan keuangan terkait belanja anggaran ini ini sama halnya dengan menjawab seberapa pentingkah anggaran itu sendiri. Pada umumnya anggaran bermanfaat untuk:

  1. Menggambarkan prioritas dan tujuan kegiatan terkait keuangan di masa yang akan datang.
  2. Alat komunikasi sesama anggota keluarga, dan tentunya bermakna dalam pendidikan keuangan, karena dapat menyediakan informasi batasan atau standar gaya hidup yang disesuaikan dengan ketersediannya biaya hidup.
  3. Mengendalikan/mengontrol pos yang kuat dan lemah atau mudah terjadi kebocoran, dan menentukan tindakan koreksi yang harus diambil untuk masing-masing anggaran.
  4. Memengaruhi dan memotivasi diri untuk menggunakan keuangan dengan konsisten, efektif, dan efisien sesuai tujuan masing-masing pos.
  5. Mengevaluasi produktivitas dan kinerja keuangan, terutama pada pos modal kerja. Karena jika ingin merubah gaya hidup, maka harus bisa mengelola anggaran modal kerja aktif yang dapat kembali memberikan hasil langsung pada pendapatan, baik berupa income tambahan bulanan atau tahunan.


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss